Kisah Nabi Muhammad SAW : Bulan Terbelah Dua | Bahaudin Online

Pages

Friday, December 21, 2012

Kisah Nabi Muhammad SAW : Bulan Terbelah Dua

Berikut ini Kisah Nabi Muhammad SAW, berkenaan dengan peristiwa Bulan Terbelah Dua.

Alkisah, Habib bin Malik salah seorang raja Syam di masa Jahiliyah yang dikenal "Raihanah Quraisy" oleh bangsa Arab. Ketika ia menerima surat dari Abu Jahal yang berisi keperluan ini dan kepentingan itu se­perti yang telah lewat atau sedang berjalan, maka iapun berangkat dengan berkendaraan kuda dan diiringi pasukan berkuda pula sejumlah 12.000 prajurit. Setelah sampai di pinggiran kota Makkah merekapun berhenti, tempat itupun di­sebut "Abthah".

Abu Jahal berikut tokoh-tokoh penguasa kota Makkah menyambut kehadiran mereka dengan membawa aneka ragam hadiah dan perhiasan. Raja Habib menyuruh Abu Jahal duduk di sisi kanannya, lalu me­nanyakan kepadanya tentang Nabi Muhammad SAW. Abu jahal pun menjawab­nya : "Bila tuanku raja ingin bertanya tentang Muhammad, sebaiknya tuan tanyakan itu kepada Bani Hasyim". Dan kemudian Bani Hasyim pun menjawab pertanyaan itu, mereka berkata : "Kami tahu pasti tentang keadaan muhammad yang berkepribadian baik, sejak kecil ia senantiasa amanat, jujur dan shidiq (tutur kata­nya selalu benar), hanya saja semenjak usianya 40 tahun ia terus-terusan mencaci maki tuhan-tuhan kami, bahkan menyatakan secara resmi agama Islam, yang bukan anutan bapak-moyang kami".

Kemudian raja Habib berkata : "Ajaklah Muhammad ke mari dengan cara baik-baik, kalau tidak paksalah dia". Maka merekapun menugaskan salah seorang pria kepada beliau. Dan berangkatlah Rasul SAW didampingi oleh Abu Bakar RA dan istrinya Khadijah RA yang menangis keduanya. Mereka berkata : "Kami khawatir akan keganasan orang kafir itu kepadamu, jangan-­jangan mereka bertindak keras, menganiaya dan memarahi­mu". Jawab beliau : "Kalian berdua tidak perlu khawatir, dan bertawakkal-lah, menyerahkan urusanku ini kepada Allah SWT. Abu Bakar kemudian menyerahkan kepada beliau baju baru dan sorban, dan oleh beliau langsung dipakai, sejak beliau keluar rumah hingga sampai di depan raja Habib, beliau selalu didampingi oleh Abu Bakar di sisi kanan dan Khadijah di sisi kirinya.

Melihat Nabi SAW, raja Habib pun berdiri tegak me­nyambut penuh hormat atas kehadiran beliau dan mempersilahkan beliau duduk di kursi emas. Sedangkan Khadijah berdo'a memohon kepada Allah SWT : "Ya Allah, tolonglah Nabi Muhammad SAW, bantulah Ia memenangkan hujjahnya". Nabi Muhammad SAW duduk di depan raja Habib, nur cahaya beliau memancar terang dari wajahnya, menandakan penuh kedamaian dan kewibawaan, orang-orangpun melihatnya penuh kagum pula.

Lalu raja Habib berkata : "Hai Muhammad, anda tentu tahu pasti bahwa setiap Nabi semuanya memiliki keistimewaan atau mu'jizat, bagaimanakah dengan mu'jizat yang ada padamu?" Jawab beliau : "Apa yang engkau mau?" raja Habib menjawab : "Mauku yaitu supaya mentari tenggelam, dan bulan terbit meluncur ke permuka­an bumi dalam keadaan membelah jadi dua keping, lalu masuk ke dalam pakaianmu, lalu sekeping keluar dari lengan baju kananmu dan sekeping lagi keluar dari lengan baju kirimu. Kemudian dua kepingan itupun harus menyatu utuh kembali, bulat kembali di atas kepalamu, dan menyatakan bahwa anda seorang Rasul, sesudah itu ia kembali ke langit menjadi bulan sebagaimana biasa memancarkan cahayanya dan tenggelam, lalu mentari pun terbit kembali sesudah itu, dan beredar di porosnya seperti semula".

Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya : "Kalau sudah kulaksanakan semua itu, adakah engkau mau beriman kepada agamaku"? Jawabnya : "Ya dengan catatan : Anda memberitahu kepadaku tentang hal-hal yang aku risaukan di dalam lubuk hatiku". Lalu Abu Jahal berdiri tegak seraya berkata : "Tepat sekali tuan raja, sungguh tepat ucapan yang tuan katakan itu".

Kemudian berangkatlah Nabi Muhammad SAW mendaki bukit Jabal Qubais, shalat 2 rakaat, lalu membentangkan dua tangannya berdo'a kepada Allah Swt. Maka Jibril as turun diiringi 12.000 malaikat dengan sejumlah panah di tangan mereka. Jibril as mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW : "Assalaamu'alaika ya Rasulullah, sungguh, Allah menyampaikan salam untukmu, Firman-Nya : "Hai kekasih-Ku, jangan gentar ataupun bersedih, sebab Aku senantiasa bersamamu di mana saja engkau berada, sungguh telah menjadi ketetapan dalam Ilmu­-Ku, dalam perjalanan qadla (kepastian-Ku) di alam Azali, Hal-hal yang dituntut oleh raja Habib pada hari ini. Untuk itu, segeralah hadapi mereka, sampaikan hujjahmu dan jelaskan keberadaanmu serta Risalahmu. Allah Swt telah memilihmu, Dia menaklukkan bagimu mentari, bulan, siang dan malam. Dan Habib bin Malik punya seorang putri yang jatuh terlentang tiada tangan, kaki dan tidak pula dua bola mata. Sampaikanlah khabar gembira kepadanya, bahwa Allah sudah memberinya kedua tangan, kedua kaki dan dua bola matanya melihat".

Akhirnya beliaupun turun dari jabal Qubais dengan cahaya dan kegembiraan yang bertambah. Jibrilpun mengawang di angkasa raya, para malaikat lainnya berbaris rapi, hingga Rasul saw berhenti di depan raja Habib, dan waktu itu menunjukkan mentari tenggelam, seolah-olah berlari cepat, jadilah gelap gulita, kemudian terbitlah bulan purnama. Dan di saat bulan itu naik, beliau berisyarat dengan kedua jari, lalu bulan pun seolah-olah berlari cepat meluncur turun ke bumi, ia ber­henti di depan Nabi Muhammad SAW, iapun bergetar bagaikan awan, kemudian terbelah menjadi dua keping, dan langsung memasuki bawah baju beliau, sekeping muncul dari lengan baju kanan dan sekeping lagi muncul dari lengan baju kiri Nabi Muhammad SAW, selanjutnya ia kembali menjadi bulan seperti biasanya memancarkan sinar cahaya terang. Bulan pun berkata dengan keras, yang artinya :
"Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang patut disembah selain Allah, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, sungguh menanglah orang yang beriman, dan merugilah orang yang mengingkarimu".
Kemudian iapun kembali ke langit seperti biasanya menjadi bulan yang bercahaya terang, dan kemudian lenyap. mentaripun kembali terbit seperti semula.

Selanjutnya raja Habib mengajukan tuntutan berikut­nya, yang langsung dijawab oleh Nabi Muhammad SAW, sabdanya "Sungguh, engkau punya seorang anak putri yang jatuh, tiada tangan, kaki ataupun bola mata kepala, kini Allah SWT telah mengembalikan atau memberikan anggota-anggota tubuh itu".

Maka raja Habib pun bangun dari duduknya, ia berdiri tegak seraya berseru : "Hai masyarakat Makkah, tiada kufur sesudah iman, dan tiada keraguan sesudah yaqin, untuk itu perlu kalian ketahui, bahwa aku menyatakan diri masuk Islam yang segera diikuti oleh seluruh pengikutku, lalu raja Habib dan para pengikutnya mengucapkan dua kalimat sahadat, yang artinya :
"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang lain, kecuali Allah, Dia Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku ber­saksi pula bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya".
Abu Jahal berkata : "Wahai tuan raja, Percayakah tuan kepada tukang sihir dengan aksi sihirnya ini?" Kemudian raja Habib segera pulang ke negeri Syam dalam keadaan Islam berikut para pengiringnya yang sudah memeluk Islam pula, ia memasuki istananya dan langsung disambut oleh anak putrinya yang mengucapkan dua kalimat syahadat.

Dengan kagum Raja Habib bertanya : "Wahai putriku, dari manakah engkau belajar kalimat syahadat yang bagus ini?" Jawab putrinya : "Seorang pria datang kepadaku di saat aku tidur, bahkan ia berkata : Ayahmu telah memeluk agama Islam, dan jika engkau mengikuti jejak ayahmu memeluk agama Islam, pasti kukembalikan anggota-anggota tubuhmu menjadi sehat dan baik. Maka akupun telah menyatakan Islam di tengah tidurku, maka pada pagi hari ini, aku menjadi normal kembali sebagaimana ayah lihat". Maka raja Habib pun bersungkur sujud kepada Allah SWT, ia mensyukuri karunia ni'mat Iman, dan mantaplah keyakinannya.

Demikianlah Kisah Nabi Muhammad SAW : Bulan Terbelah Dua. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait :

0 komentar:

Post a Comment